Lompat ke isi

Pertarungan Hidup

14 Maret 2010

Bertarung itu sudah menjadi takdir manusia ketika dilahirkan ke muka bumi ini. Sang ibu bertarung untuk mengeluarkan, sang ayah bertarung menghadapi situasi terburuk dan terbaik sementara sang anak bertarung untuk mencoba menghirup udara pertamanya. Satu yang tidak bisa kita lupakan bahwa pertama kali si ayah dan si ibu juga harus ‘bertarung’ untuk itu.

Ketika bayi kita juga harus bertarung untuk membedakan susu dari ASI dan susu pabrikan, bertarung dari cubitan dan ciuman beragam manusia. Bertarung melepaskan diri dari kencing dan kotoran sendiri, bertarung untuk menolak makanan bayi yang kadang sudah kurang kita sukai.

Pada saat kita masuk bangku sekolah, kita tidak hanya harus bertarung menghadapi berbagai mata ajaran yang paling tidak kita suka tapi juga harus bertarung mempelajari mata ajaran kesukaan kita. Bertarung juga untuk menghadapi guru-guru yang super killer tapi juga harus tetap bertarung menghadapi guru-guru kesayangan. Bertarung juga untuk menghadapi teman sekolah yang nakal namun juga harus tetap bertarung menghadapi teman yang paling teladan. Bertarung untuk memilih bermain bola atau ikut les tambahan, bertarung memilih bolos atau tetap di kelas ketika pelajaran terakhir.

Di waktu kuliah, kita tetap bertarung untuk memilih tempat kuliah, bertarung untuk memilih mengikuti permintaan orang tua atau keinginan diri sendiri. bertarung untuk memilih tetap di depan orang tua atau pergi dari depan orang tua. Bertarung untuk memilih untuk fokus kuliah atau pengen senang-senang dulu, bertarung untuk memilih menyelesaikan laporan dan tugas atau nongkrong bareng teman-teman. Bertarung untuk mengerjakan penelitian dan skripsi tepat waktu atau menunda dan main-main dulu.

Kita juga harus bertarung untuk memilih bekerja di pemerintahan, swasta, wirausaha atau menganggur dulu. Masih tetap bertarung untuk memilih kerja di daerah atau di pusat dengan segala perbedaannya, bertarung untuk memperoleh dana awal untuk memulai wirausaha sendiri. bertarung untuk kembali bangkit ketika ada yang salah dan kurang di pekerjaan kita.

Masih harus tetap bertarung untuk memilih teman hidup, si A atau si B atau bahkan si C atau yang lainnya. Bertarung untuk menentukan mengikuti pilihan orang tua atau pilihan sendiri. Bertarung untuk memilih calon pendamping yang satu suku atau beda suku. bertarung untuk menentukan jumlah anak yang diinginkan kelak. Bertarung juga untuk menentukan nama anak.

Pada akhirnya di masa tua, kita masih  harus bertarung untuk menentukan pembagian warisan (jika ada) kepada anak-anak kita. kita juga masih harus bertarung untuk menentukan lokasi kuburan kelak.

Ternyata sepanjang hidup kita selalu bertarung dan bertarung. hidup untuk bertarung dan pertarungan hidup itu adalah untuk hidup serta menghidupkan pertarungan hidup ternyata mengidupkan hidup kita.

Sumber foto dari sini

Satu komentar leave one →
  1. 18 Maret 2010 4:45 am

    Bagooossssss

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.