Skip to content

PERUBAHAN KOMPOSISI DAN STRUKTUR TEGAKAN HUTAN PRODUKSI ALAM DENGAN SISTEM SILVIKULTUR TEBANG PILIH TANAM INDONESIA INTENSIF (TPTII)

19 Februari 2009

Latar Belakang
Salah satu sistem silvikultur yang sedang dikembangkan di Indonesia adalah Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII) yang lahir berdasarkan SK Dirjen Bina Produksi Kehutanan No 77/VI-BPHA/2005 tanggal 3 Mei 2005. Sistem TPTII merupakan perpaduan dan pengembangan dari sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) dan penanaman pengayaan (enrichment planting) dari sistem TPTI. Sistem pemanenan pada TPTII adalah tebang pilih dengan limit diameter 40 cm up pada kelompok kayu meranti dan kayu rimba campuran komersil. Sementara sistem pembinaan hutan adalah penanaman perkayaan dari jenis-jenis kelompok kayu meranti unggul hasil uji genetis, uji provenan dan uji tanam yang sesuai dengan kondisi lapangan. Persiapan penanaman dilakukan pada LOA (Logged Over Area) dengan melakukan tebangan bersih secara jalur dengan lebar 3 m dan meninggalkan jalur kotor sekitar 17 m berupa tegakan LOA.

Penggunaan sistem silvikultur TPTII diprediksi akan menyebabkan perubahan besar pada dinamika masyarakat tumbuhan pada tegakan tinggal. Hal ini berkaitan dengan penetapan limit diameter pohon ditebang yaitu jenis komersil dengan diameter lebih dari 40 cm proses dan adanya perlakuan pembersihan jalur tanam dengan tebang habis terhadap vegetasi yang terdapat pada jalur tanam.

Perubahan Komposisi Jenis dan Struktur Tegakan Tingkat Pohon dan Permudaan
Pelaksanaan sistem silvikultur TPTII menyebabkan perubahan komposisi jenis baik dari jumlah jenis maupun kerapatan untuk semua tingkat permudaan dan besar nilai perubahan ini berbeda pada setiap perlakuan yang dilakukan. Struktur tegakan hutan primer, setelah penebangan dan setelah penjaluran menunjukkan jumlah pohon yang semakin berkurang dari kelas diameter kecil ke kelas diameter besar, sehingga bentuk kurva pada umumnya dicirikan oleh jumlah sebarannya menyerupai “J” terbalik. Secara umum struktur tegakan pada petak pengamatan menunjukkan karakteristik menyerupai “J” terbalik, sehingga dapat dikatakan kondisi hutan tersebut masih normal.

Pola Penyebaran (Frekuensi) Jenis
Nilai frekuensi suatu jenis dapat digunakan untuk menunjukkan distribusi atau sebaran jenis dalam ekosistem atau memperlihatkan pola distribusi tumbuhan. Nilai yang diperoleh dapat pula untuk menggambarkan kapasitas reproduksi dan kemampuan adaptasi serta menunjukkan jumlah unit contoh yang mengandung jenis tertentu (Ferianita, 2007). Adanya kegiatan tebangan persiapan menyebabkan terjadi pergeseran nilai frekuensi dimana ada kelompok kayu yang hilang sehingga akan meningkatkan nilai frekuensi kelompok kayu yang lain. Setelah kegiatan penjaluran terjadi pergeseran nilai frekuensi dimana terjadi penurunan frekuensi dari kelompok kayu campuran dan peningkatan frekuensi dari kelompok kayu dilindungi dan kayu meranti. Hal ini terjadi karena dalam proses kegiatan penjaluran, anakan alami dari kedua kelompok kayu tetap dipertahankan walaupun terdapat dalam jalur tanam. Sedangkan kelompok kayu campuran lebih banyak hilang pada saat penjaluran karena memiliki kerapatan dan penyebaran awal yang tinggi.

Bentuk Dominasi Jenis
Pada tingkat semai terjadi peningkatan nilai dominasi pada kondisi setelah tebangan persiapan dan tebangan penjaluran terhadap kondisi awal yang mengindikasikan bahwa dominasi jenis cenderung dipusatkan pada beberapa jenis atau kelompok kayu. Namun nilai dominasi setelah penjaluran cenderung turun terhadap kondisi setelah tebangan persiapan. Hal ini terjadi karena jenis-jenis dominan pada kondisi setelah tebangan persiapan lebih banyak hilang saat dilakukan penjaluran. Pada tingkat pancang nilai dominasi cenderung mendekati nol pada kondisi primer menunjukkan bahwa dominasi jenis tersebar pada banyak jenis dan kelompok jenis. Nilai dominasi akan meningkat setelah kegiatan pemanenan dan penyiapan jalur tanam yang menunjukkan adanya kecenderungan perubahan dominasi jenis. Dominasi jenis pada kondisi setelah tebangan persiapan dan penjaluran cenderung terpusat pada beberapa jenis dari kelompok kayu campuran dan sedikit kayu meranti. Terjadi penurunan nilai dominasi dalam skala kecil setelah dilakukan penjaluran terhadap kondisi setelah tebangan yang menunjukkan bahwa kegiatan penjaluran tidak berpengaruh besar dalam mengubah nilai dominasi jenis karena jenis-jenis yang hilang umumnya berasal dari kelompok kayu campuran yang memiliki jumlah individu yang tinggi.
Pada tingkat tiang, untuk kondisi awal hampir semua kelompok kayu bersifat dominan karena nilai dominasi tersebar pada semua kelompok kayu. Setelah dilakukan kegiatan pemanenan dan penjaluran terjadi perubahan nilai dominasi yang menunjukkan bahwa terjadi pergeseran jenis dominan akibat adanya kehilangan jenis dan individu setelah tebangan persiapan dan penjaluran yang cenderung mengakibatkan dominasi jenis terpusat pada beberapa jenis atau kelompok kayu saja. Pada tingkat pohon, untuk kondisi awal dominasi jenis tersebar pada banyak jenis yang ditunjukkan dari nilai dominasi yang mendekati nol. Adanya kegiatan pemanenan dan penjaluran hanya meningkatkan nilai dominasi sekitar 21.33% dari kondisi awal. Hal ini terjadi karena jumlah individu dari masing-masing jenis relatif tinggi ditambah dengan kegiatan pemanenan pohon diameter 40 cm ke atas yang didominasi kayu campuran dan meranti yang memiliki kerpatan yang lebih tinggi, sehingga dominasi jenis setelah kegiatan penebangan masih tersebar pada banyak jenis.

Nilai Kekayaan, Keanekaragaman dan Kemerataan Jenis

Nilai keanekaragaman pada tingkat semai pada kondisi primer lebih tinggi dibandingkan nilai keanekaragaman pada kondisi setelah tebangan persiapan dan tebangan penjaluran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat semai tidak terjadi penurunan tingkat keanekaragaman mulai pada kondisi awal, setelah tebangan persiapan dan tebangan penjaluran sehingga kegiatan pemanenan dan penjaluran cenderung tidak menurunkan nilai keanekaragaman tingkat semai.
Nilai keanekaragaman pada tingkat pancang pada kondisi primer lebih tinggi dibandingkan pada kondisi setelah tebangan dan penjaluran, dimana kriteria keanekaragaman pada kondisi primer adalah sedang pada kelas kelerengan datar dan curam dan tinggi pada kelas kelerengan curam. Adanya kegiatan tebangan persiapan dan penjaluran berpengaruh dalam menurunkan nilai keanekaragaman pada kondisi primer dimana terjadi penurunan tingkat keanekaragaman tinggi menjadi sedang pada kelas kelerengan sedang. Nilai keanekaragaman pada tingkat tiang pada kondisi primer lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi hutan setelah tebangan dan penjaluran serta memiliki nilai keanekaragaman yang tinggi.
Adanya kegiatan pemanenan pohon produksi dan penyiapan jalur tanam berpengaruh dalam menurunkan nilai keanekaragaman pada tingkat tiang untuk semua kelas kelerengan dimana nilai keanekaragaman jenis akan turun dari kriteria tinggi menjadi sedang. Hal ini dipengaruhi oleh intensitas kehilangan jenis akibat pemanenan dan penyiapan jalur tanam yang tinggi pada tingkat pertumbuhan ini. Berbeda dengan tingkat pertumbuhan lainnya, pada tingkat pohon untuk semua kelas kelerengan dan kondisi hutan baik saat hutan primer, setelah tebangan persiapan maupun setelah tebangan penjaluran nilai keanekaragaman jenis relatif konstan dan cenderung tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat kerapatan individu yang tinggi dan pola penyebaran yang merata baik pada kondisi datar sampai penjaluran, sehingga walaupun terdapat kegiatan penebangan namun kondisi tersebut akan tertutupi oleh individu dari jenis yang sama karena pola tebangannya umumnya bersifat acak dan persebaran individu bersifat merata.

Stratifikasi Tajuk
Pengaruh kegiatan pemanenan kayu produksi akan menggeser pola stratifikasi dari kondisi awal dimana terjadi penurunan jumlah individu yang menempati strata A dari semua kelompok kayu. Kegiatan pemanenan berdampak pada besar pada pengurangan jumlah individu per hektar dari kelompok kayu dilindungi dan kayu buah. Kegiatan pemanenan berdampak besar terhadap individu-individu yang menempati strata C dimana terjadi penurunan jumlah individu dalam jumlah besar dengan kehilangan sekitar 50.1% dari individu awal strata C. Jumlah individu yang menempati ketiga strata ini akan turun sehingga sisa individu yang tinggal sekitar 53.9% dari jumlah awal.
Kegiatan penjaluran berpengaruh pada pergeseran pola stratifikasi terutama pada strata B dan C karena individu-individu yang ditebang pada kegiatan penjaluran umumnya berasal dari strata B dan C serta dari kelompok kayu campuran. Tidak terjadi pergeseran nilai kelompok kayu dilindungi setelah kegiatan penjaluran karena kelompok ini akan dipertahankan walaupun berada dalam jalur tanam. Kegiatan penjaluran akan mengurangi jumlah individu yang menempati ketiga strata, sehingga pada akhir kegiatan jumlah individu yang ditemukan tinggal sekitar 40.3% dari kondisi awal.

Keterbukaan Lahan
Kegiatan pemanenan kayu merupakan faktor terbesar dalam menentukan keterbukaan lahan dan keterbukaan oleh tajuk lebih besar dibandingkan oleh keterbukaan oleh kegiatan penyaradan. Keterbukaan oleh kegiatan pemanenan berkisar antara 3361.69-5018.03 m2 sementara keterbukaan oleh kegiatan pembinaan hutan berkisar antara 1159.47-1463.88 m2. Total keterbukaan akibat penerapan sistem silvikultur TPTII berkisar antara 4521.16-6451.45 m2. Kelas kelerengan sedang mempunyai potensi keterbukaan terbesar dibandingkan kelas kelerengan datar dan curam.
Pada kelas kelerengan ini persentase keterbukaan mencapai nilai 64.51% per hektarnya sementara kelas kelerengan datar dan curam masing-masing mencapai 45.21% dan 52.05%. Dalam sistem silvikultur TPTII terdapat dua faktor yang mempengaruhi keterbukaan lahan yaitu kegiatan pemanenan berupa penebangan yang menyebabkan keterbukaan tajuk (terjadi rumpang) dan penyaradan yang menyebabkan keterbukaan tanah (jalan sarad) serta kegiatan pembinaan hutan berupa pembukaan jalur bersih untuk jalur tanam lebar 3 m dengan membersihkan vegetasi yang masuk dalam jalur tanam tersebut. Faktor yang mempengaruhi luasan rumpang antara lain kerapatan tegakan, diameter dan tinggi pohon yang ditebang, bentuk tajuk, kemiringan lapangan, intensitas penebangan, teknik penebangan dan tanaman melilit (Sularso, 1996). Sementara faktor keterbukaan oleh jalan sarad lebih dipengaruhi antara lain penyebaran pohon produksi, kelas kelerengan lahan, intensitas pemanenan dan keahlian operator traktor.

Kerusakan Tegakan Akibat Penebangan Satu Pohon

Pengukuran kerusakan akibat penebangan satu pohon ini bertujuan untuk melihat pengaruh penebangan satu pohon terhadap kerusakan pada tegakan atau pada pohon non target yang berdiameter lebih dari 10 cm. Dari Tabel 4. dibawah ini menunjukkan bahwa penebangan satu pohon produksi akan megakibatkan kerusakan sekitar 47.2% dari pohon non target yang berada dalam radius lingkar tinggi pohon target.
Bentuk kerusakan terbesar adalah patah batang utama yang mencapai sekitar 23.7% dari total kerusakan. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat kerapatan individu disekitar pohon target dan liana yang melilit pohon target dengan non target. Bentuk kerusakan terbesar kedua adalah kerusakan tajuk yang mencapai 7.8% dari total kerusakan. Kerusakan tajuk umumnya terjadi pada pohon non target yang berada pada strata B dan C atau lebih rendah dari tinggi total pohon target. Tingkat kerusakan pohon-pohon non target lebih dipengaruhi oleh tinggi total pohon target yang menyebabkan luasan rumpang lebih besar, kerapatan individu dalam radius lingkar tinggi total pohon target, luas tajuk pohon target, arah rebah oleh operator chainsaw serta liana yang melilit antar pohon terutama pohon target dengan non target.

Kerusakan Tegakan Tinggal
Pelaksanaan sistem silvikultur TPTII akan menyebabkan dua kali perubahan kondisi hutan yaitu perubahan dari kondisi primer akibat pemanenan pohon produksi dan kegiatan penyiapan jalur tanam dari hutan setelah pemanenan (LOA). Pengamatan kerusakan tegakan tinggal dilakukan pada pohon berdiameter > 10cm. Bentuk kerusakan terbesar adalah patah batang utama yang mencapai sekitar 32.9-44.5% dan roboh yang mencapai 29.1-43.1% dari total kerusakan per hektarnya. Besarnya tingkat kerusakan lebih dipengaruhi oleh kerapatan dan pola penyebaran individu terhadap pohon-pohon target bukan intensitas pemanenan. Hal ini terlihat pada kelas kelerengan datar dan curam yang memiliki jumlah pohon rusak lebih tinggi dibandingkan kelas kelerengan sedang yang mempunyai intensitas pemanenan yang lebih tinggi.
Kelas diameter 20-29 cm memiliki tingkat kerusakan individu yang lebih tinggi dibandingkan kelas diameter lainnya. Jumlah pohon rusak pada kelas diameter 20-29cm sekitar 28 batang/ha dan diikuti oleh kerusakan pada kelas diameter 10-19 cm sekitar 15-23 batang/ha. Tingginya tingkat kerusakan pada kelas diameter 20-29 dan 10-19cm terjadi karena sebaran N/ha dari semua kelompok kayu tertinggi terdapat pada kelas diameter tersebut sehingga memiliki peluang rusak lebih tinggi. Bentuk kerusakan roboh pada kelas kelerengan sedang dan curam memiliki peluang lebih besar dibandingkan kelas kelerengan datar, karena kelas kelerengan sedang dan curam memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi pada waktu penyaradan dibandingkan pada kelas kelerengan datar dimana persentase terbesar penyebab roboh adalah proses penyaradan.

Gbr. Jalur TanamGbr. Jalur Tanam

Analisa Sifat Fisik dan Kimia Tanah

Untuk mengetahui nilai-nilai sifat fisik dan kimia tanah dilakukan analisis laboratorium terhadap sampel tanah yang diambil dari lapangan. Sampel sifat fisik dan kimia tanah di dari kondisi hutan primer, setelah tebangan dan setelah penjaluran.
Sifat fisik tanah bertanggung jawab atas peredaran udara, ketersediaan air dan zat terlarut melalui tanah. Kondisi sifat fisik tanah menentukan penetrasi akar, retensi air, drainase, aerasi dan nutrisi tanaman, sehingga pengaruhnya sangat besar terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman hutan. Berikut adalah Tabel hasil analisis sifat fisik dan kimia tanah.
Struktur tanah pada ketiga kondisi tidak berubah dan berbentuk butiran dengan kelas halus sampai sedang. Struktur tanah berasal dari partikel-partikel tanah yang membentuk agregat tanah yang saling berikatan membentuk suatu bongkahan tanah. Bulk density dapat menjadi suatu petunjuk tidak langsung kepadatan tanah, udara, air, dan penerobosan akar tumbuhan kedalam tubuh tanah. Nilai bulk density cenderung meningkat dari kondisi primer sampai kondisi setelah penjaluran dengan nilai yang meningkat 0.09 gr/cm3, namun pada kondisi hutan setelah tebangan dan setelah penjaluran cenderung sama. Tanah dengan bobot yang besar akan sulit meneruskan air atau sulit ditembus akar tanaman, begitu pula sebaliknya tanah dengan bobot isi rendah, akar tanaman lebih mudah berkembang (Hardjowigeno 2003). Terjadi penurunan sifat permeabilitas tanah dari kondisi primer sampai kondisi setelah penjaluran, dimana nilai permeabilitas pada kondisi primer sekitar 2.74 cm/jam turun menjadi 0.59 cm/jam pada kondisi setelah penjaluran. Nilai permeabilitas turun dari tingkat sedang pada kondisi primer menjadi tingkat agak lambat pada kondisi setelah penjaluran, artinya kemampuan tanah di lokasi untuk meloloskan air ke lapisan bawah agak lambat, yaitu sebesar 0.59 cm dalam setiap jamnya. Air tersedia di lokasi penelitian berkisar antara 8.72 % – 10.41 % volume tanah. Air tersedia tertinggi terdapat pada kodisi hutan primer, yaitu sebesar 10.41 % volume tanah, sedangkan air tersedia terendah berada pada kondisi hutan setelah penjaluran, yaitu sebesar 8.72 % volume tanah. Terjadi penurunan nilai air tersedia sebesar 1.69%dari kondisi hutan primer sampai pada kondisi setelah penjaluran.
Sifat kimia tanah yang diamati dalam penelitian ini adalah nilai pH dan Kapasitas Tukar Kation (KTK). Derajat kemasaman tanah menunjukkan banyaknya konsentrasi ion H+ didalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ didalam tanah, semakin masam tanah tersebut (Hardjowigeno, 2003). Dari Tabel diatas menunjukkan bahwa terjadi penurunan nilai pH (H2O)setelah kegiatan penebangan dan pH (H2O) pada kondisi setelah tebangan dan penjaluran cenderung sama. Hakim et al (1986) menyatakan bahwa KTK suatu tanah dapat didefenisikan sebagai kemampuan koloid tanah dalam menjerap dan mempertukarkan kation. Dari hasil analisis diketahui bahwa kegiatan pemanenan kayu akan menurunkan nilai KTK dari 8.58 me/100g pada kondisi primer menjadi 2.84 me/100g.

Kesimpulan
Kegiatan pemanenan pohon produksi menyebabkan perubahan komposisi jenis dan struktur tegakan yang lebih besar daripada kegiatan pembinaan hutan. Pelaksanaan sistem silvikultur TPTII dengan dengan limit diameter 40 cm up akan menyebabkan keterbukaan sekitar 45.21-64.51% sedangkan kegiatan pembinaan hutan menyebabkan keterbukaan sekitar 11.59-14.63% pada setiap luasan yang sama. Pelaksanaan sistem silvikultur TPTII pada hutan primer menurunkan nilai keanekaragaman jenis pada tingkat semai, pancang dan tiang sementara pada tingkat pohon relatif konstan sehingga tingkat semai dan pancang lebih rentan mengalami kehilangan jumlah jenis dan individu. Kelas kelerengan sedang umumnya memiliki jumlah jenis dan kerapatan yang lebih tinggi dan mempunyai potensi kerusakan yang lebih besar. Potensi dan komposisi vegetasi pada tegakan tinggal masih memenuhi kriteria jumlah permudaan yang harus terdapat tegakan tinggal menurut Kepmenhut No. 200/Kpts-II/1994 Tanggal 26 April 1994. Terjadi perubahan beberapa sifat fisik dan kimia tanah akibat pemanenan dan pembuatan jalur, namun berdasarkan hasil pengamatan nilai perubahan masih dalam skala yang kecil. Kegiatan pemanenan dengan limit diameter 40 cm up akan menyebabkan kerusakan yang mencapai 30.26% dari total individu pada tegakan tinggal.

7 Komentar leave one →
  1. yana Suryadinata permalink
    8 April 2009 4:05 pm

    apakah besaran nilai yang ada di kesimpulan merupakan hasil penelitian ? kalau ya dimana saya dapat sumber atau buku penelitiannya ?
    apakah ada penelitian TPTII terhadap keanekaragaman hayati satwaliar ?

  2. nawa permalink
    27 September 2009 8:14 pm

    hmmmmmmmmmmm…

  3. epih permalink
    15 Februari 2010 3:52 pm

    menurut saya ni krang lengkap jadi, tolong di lengkapkan lagi k,,,,,,,,,,,,?

  4. 28 Juni 2010 6:56 pm

    ini cocok untuk penelitian kakak kelas saya..thararengkyu

  5. 28 Juni 2010 6:58 pm

    matur suwun

  6. marisa permalink
    12 Februari 2011 11:58 am

    bang, tinpus untuk hubungan kerusakan tegakan tinggal dengan kelerengan apa ya???
    mohon bantuannya ya bang, lagi nyusun propen nih…
    makasih bang..

  7. chrisnhotho permalink
    8 Mei 2012 9:10 pm

    yang diatas tersbut hasil karya siapa?tolong di tuliskan namanya…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: