Skip to content

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

22 Desember 2009
tags:

Korupsi adalah keonaran yang menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan“. Itu adalah pernyataan bapak presiden SBY ketika membacakan peryataannya tentang masalah hukum Bibit-Chandra.

Jika kita berbicara mengenai korupsi pada waktu sekarang ini, maka kita tidak akan jauh dari pembahasan tentang satu lembaga yang berwenang dalam penanganan korupsi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) adalah komisi di Indonesia yang dibentuk pada tahun 2003 untuk mengatasi, menanggulangi dan memberantas korupsi di Indonesia. Komisi ini didirikan berdasarkan kepada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2002 mengenai Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

KPK mempunyai visi yakni mewujudkan lembaga yang mampu mewujudkan Indonesia yang bebas dari korupsi dan juga mempunyai misi sebagai pendobrak dan pendorong Indonesia yang bebas dari korupsi serta menjadi pemimpin dan penggerak perubahan untuk mewujudkan Indonesia yang bebas dari korupsi.

Jika kita bedah jenis-jenis korupsi, ternyata kita akan menemukan ada tujuh jenis korupsi. Apa sajakah jenis korupsi tersebut (KPK, 2009) ?.

  1. Korupsi yang merugikan keuangan negara.
  2. Korupsi yang berhubungan dengan suap-menyuap.
  3. Korupsi yang berhubungan dengan penyalahgunaan jabatan.
  4. Korupsi yang berhubungan dengan pemerasan.
  5. Korupsi yang berhubungan dengan kecurangan.
  6. Korupsi yang berhubungan dengan pengadaan.
  7. Korupsi yang berhubungan dengan gratifi kasi (hadiah).

Korupsi memang menjadi biang kerok yang menghambat pembangunan. Banyak prestasi yang seharusnya bisa dicapai, menjadi terhambat karena korupsi. Tak percaya? Lihat saja, gara-gara korupsi, maka:

1. Penegakan hokum dan layanan masyarakat jadi amburadul. Lalu lintas sepertinya menjadi contoh yang pas. Mulai dari mengurus SIM sampai sidang kasus tilang, nggak ada lagi yang berjalan sebagaimana mestinya. Ujung-ujungnya duit dan kekuasaan yang berbicara.

2. Pembangunan fisikmenjadi terbengkalai. Suka bingung kenapa banyak jalanan rusak atau gedung sekolah reyot? Yach, itu lagi-lagi karena korupsi. Mulai dari mengorbankan kualitas bahan bangunan supaya duitnya bisa ditilep, sampai membuat proyek yang sebenarnya tidak perlu.

3. Prestasi menjadi tidak berarti. Seharusnya seseorang bisa menduduki jabatan tertentu karena berprestasi dan kompeten. Tetapi nyatanya tidak begitu, karena banyak orang bias meraih posisi dengan uang dan kekuasaan. Alhasil, banyak banget posisi penting yang diduduki orang-orang yang nggak becus.

4. Demokrasi menjadi tidak berjalan. Pemilihan wakil daerah bisa jadi contoh yang menarik. Betapa tidak. Sudah repot-repot dipilih, tetap saja mereka lebih mengutamakan kepentingan orang-orang berduit ketimbang rakyat yang memilih. So, jangan heran kalau rakyat nggak percaya sama demokrasi.

5. Ekonomi jadi hancur. Kenapa? Kata kuncinya adalah: tidak efisien!. Contohnya, mau membuat pabrik, mesti nyogok sana-sini. Hendak buka usaha dengan modal kecil, kalah dengan perusahaan bermodal besar yang dekat dengan kekuasaan. Nggak heran, banyak investor asing yang mulai malas menanamkan modalnya di Indonesia. Ujung-ujungnya, rakyat juga yang sengsara, karena nyari kerja jadi susah, bertahan hidup apalagi.

2 Komentar leave one →
  1. 14 Januari 2010 11:34 pm

    o o t
    duh… sori ni bang, baru bisa berkunjung…🙂
    btw linknya udah aku pasang di link exchange page

    musuh besar demokrasi adalah keputus-asaan terhadap demokrasi itu sendiri

    • 19 Januari 2010 2:28 pm

      wah…terimakasi atas kunjungan n link-nya…
      salam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: